Support Startup

3 Franchise Angkringan Modal Rendah yang Untung Besar

Usaha kuliner masih menjadi salah satu sektor paling tahan banting di Indonesia. Kementerian Perindustrian mencatat PDB industri makanan dan minuman tumbuh 6,49% pada triwulan III 2025, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,04%. Di segmen kaki lima, peluang tersebut terlihat nyata pada franchise angkringan.

Angkringan adalah warung sederhana khas Yogyakarta dan sekitarnya yang menjajakan makanan serta minuman murah dari gerobak kayu. Namanya berasal dari kebiasaan “nangkring”, yaitu duduk santai berlama-lama sambil mengobrol. Karakter itulah yang membuat franchise angkringan tidak sekadar menjual makanan, tetapi juga suasana.

Menu yang ditawarkan pun khas: sego kucing, gorengan, aneka sate, tahu dan tempe bacem, teh, kopi, hingga wedang jahe. Harga per porsi yang ramah di kantong membuat pasarnya luas, mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja, sampai keluarga. Karena itu, franchise angkringan kini tidak lagi terpusat di Jogja, melainkan menyebar ke berbagai kota besar di Indonesia.

Terlihat Sepele, Inilah Franchise Angkringan dengan Hasil yang Menjanjikan

Ketiga merek berikut mewakili tiga pendekatan berbeda: paket gerobak ultrahemat, paket bertingkat sampai kelas kafe, dan konsep angkringan modern. Dengan begitu, Anda bisa menyesuaikan pilihan franchise angkringan dengan modal serta target pasar yang ingin dibidik.

Angkringan Nasi Kucing 78

Merek ini berakar dari kuliner khas Yogyakarta, sementara program kemitraannya dikelola dari Bekasi, Jawa Barat, oleh Christian Triangga Bayu. Angka “78” bukan sekadar penanda, melainkan singkatan dari filosofi “maju mapan” yang ingin dicapai bersama para mitra.

Perkembangannya terbilang cepat pada tahun-tahun awal. Pada awal 2013, jaringan mitranya tercatat lebih dari 70 gerai. Setahun berselang, pemiliknya menyebut jumlah mitra sudah mencapai 175 outlet yang tersebar di Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Sumatra, Bali, hingga Lombok. Angka terkini perlu Anda tanyakan langsung, karena franchise angkringan ini tidak mempublikasikan pembaruan data gerai secara berkala.

Dari sisi hitungan usaha, pemilik merek pernah memaparkan margin makanan berkisar 20%–30%, sedangkan minuman bisa mencapai 100%. Rata-rata pendapatan mitra saat itu berada di kisaran Rp400.000–Rp800.000 per hari. Angka tersebut merupakan kondisi 2014 dan sangat bergantung pada lokasi, sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai jaminan.

Paket kemitraan yang dipublikasikan merek ini terdiri atas tiga pilihan:

  • Paket Komplit — Rp8.000.000, mencakup hak pemakaian merek, gerobak, dan perlengkapan usaha;
  • Paket Sederhana — Rp5.500.000, berfokus pada merek dan gerobak;
  • Paket Resep — Rp2.500.000, ditujukan bagi calon mitra di luar Jawa yang membuat gerobak sendiri.

Seluruh harga tersebut belum termasuk ongkos kirim dan dapat berubah sewaktu-waktu. Bila Anda tertarik pada franchise angkringan ini, tim support kami dapat membantu menjelaskan cakupan tiap paket sebelum Anda mengambil keputusan.

Baca Juga: “Franchise Modal 200 Juta, Solusi Bisnis Menjanjikan Cepat BEP“

Angkringan Mbahe

Angkringan Mbahe berdiri sejak 2014 dan menawarkan skema kemitraan dengan modal minimal Rp4.700.000. Dalam direktori waralaba, merek ini tercatat tidak memungut franchise fee, biaya royalti, maupun biaya advertising, dengan jumlah gerai tercatat sebanyak 20 unit.

Sejumlah keunggulan yang dipromosikan franchise angkringan ini antara lain:

  • modal awal kecil dan pengelolaan yang relatif sederhana;
  • target konsumen dari semua kalangan;
  • estimasi balik modal 2–6 bulan;
  • dukungan promosi dan pemasaran dari pusat;
  • pendampingan usaha bagi mitra baru.

Perlu Anda pahami, poin-poin di atas adalah klaim pemilik merek, bukan hasil audit independen. Estimasi balik modal 2–6 bulan hanya tercapai bila lokasi, harga jual, dan volume penjualan mendukung.

Struktur paketnya bertingkat sehingga fleksibel mengikuti kemampuan modal. Berdasarkan publikasi 2022, pilihannya mencakup paket biasa tanpa lokasi Rp4,7 juta, paket biasa dengan lokasi Rp8 juta, paket biasa super (autopilot) Rp30 juta, paket semi kafe Rp60 juta, paket kafe Rp90 juta, serta paket outdoor Rp200 juta.

Terlihat Sepele, Inilah Franchise Angkringan dengan Hasil yang Menjanjikan

Franchise Angkringan Lik No

Berbeda dari citra angkringan yang identik dengan lampu temaram, Lik No mengusung konsep terang, bersih, dan higienis tanpa meninggalkan cita rasa tradisional. Pemiliknya, Satrio Adi Nugroho atau akrab disapa Rio, sengaja memodernisasi tampilan gerainya agar relevan dengan konsumen masa kini.

Ide usaha ini lahir dari kerinduan Rio pada kampung halamannya, Yogyakarta. Sebelum merintis angkringan pada 2011, ia sempat berpindah-pindah pekerjaan sepanjang 2004 hingga 2011, termasuk menjadi staf audit internal di sebuah perusahaan ritel ternama di kawasan Tanah Abang, bahkan pernah mencoba membuka usaha laundry.

Saat menawarkan kemitraan pada 2013, franchise angkringan ini mematok investasi awal Rp15 juta. Paket tersebut mencakup gerobak beserta perlengkapannya, media promosi, pelatihan, standar operasional perusahaan, dan pendampingan usaha. Pada pameran waralaba di Jakarta Convention Center tahun itu, Rio bahkan memberikan potongan harga hingga Rp5 juta.

Dari analisis bisnis yang ia susun, mitra diperkirakan mencapai titik impas pada bulan keenam hingga kedelapan dengan target omzet minimal Rp300.000 per hari. Rio juga menekankan agar mitra menguasai keterampilan memasak, karena hal tersebut berpengaruh langsung pada margin keuntungan.

Untuk menjaga konsistensi rasa, pusat menyediakan tiga bumbu inti yang dapat dibeli mitra: bumbu bacem, bacem pedas, dan sambal. Menariknya, franchise angkringan ini memberi ruang bagi mitra untuk menambah menu sendiri selama masih selaras dengan konsep angkringan.

Baca Juga: “Untungnya Gurih & Renyah, Ini Franchise Jamur Crispy Potensial“

Periksa Legalitas Sebelum Bergabung

Selain modal, aspek legalitas menentukan keamanan investasi Anda. Penyelenggaraan waralaba di Indonesia kini diatur Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2024 tentang Waralaba, yang mencabut PP Nomor 42 Tahun 2007. Regulasi ini mengatur kriteria waralaba, prospektus penawaran, perjanjian, hingga kewajiban memiliki Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW).

Tata cara penerbitan STPW oleh pemerintah daerah diatur melalui Permendag Nomor 25 Tahun 2025, yang sekaligus mencabut Permendag Nomor 71 Tahun 2019. Aturan tersebut memberi tenggat lima hari kerja, dan bila STPW belum terbit, bukti permohonan dapat digunakan sementara sebagai dasar legal operasional.

Konsekuensinya sederhana: banyak tawaran yang dilabeli franchise angkringan sebenarnya berbentuk kemitraan biasa tanpa pendaftaran resmi. Karena itu, prospektus dan perjanjian perlu Anda baca utuh, status merek serta STPW wajib dicek, dan isi paket harus sebanding dengan harga yang ditawarkan sebelum dana disetorkan.

Menghitung modal, memilih lokasi, hingga menelaah perjanjian memang menjadi bagian paling menentukan saat memulai usaha franchise angkringan. Agar Anda tidak menilai penawaran hanya dari brosur, informasi kemitraan sebaiknya ditelusuri melalui jalur yang dapat dipertanggungjawabkan.

Jika Anda ingin mempelajari lebih jauh mengenai ketiga franchise angkringan di atas, mulai dari rincian paket, syarat kemitraan, hingga perhitungan estimasi balik modal, silakan hubungi tim support kami. Kami akan membantu Anda memverifikasi informasinya dan menentukan pilihan yang paling sesuai dengan kondisi usaha Anda.

Ingin Memiliki Sebuah Bisnis? Daftarkan Diri Anda Sebagai Mitra Franchise

Hubungi Sekarang